RSUD Lakukan Penyuluhan Tentang Donor Darah

Kontribusi dari RSUD KAPUAS, 29 Januari 2020 09:00, Dibaca 506 kali.

KUALA KAPUAS - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kapuas melakukan penyuluhan kesehatan tentang Donor Darah Untuk Ibu Hamil dan Syarat Menjadi Pendonor melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Kapuas dengan Frekuensi 91,4 FM, yang pada kesempatan itu disampaikan langsung oleh dr. Erny Indrawati selaku Dokter Umum dan Kepala Unit Transfusi Darah RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, beserta Tim PKRS, yang mana Penyuluhan Kesehatan tersebut merupakan kegiatan rutin Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS), Rabu (29/01).

Pada kesempatan itu dr. Erny menerangkan bahwa sebelum bicara tentang syarat-syarat menjadi pendonor, kita berkenalan dulu dengan program pemerintah, yaitu Quick Wins yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) No. 92 Tahun 2015. Quick Wins, adalah program pelayanan darah untuk mencegah kematian ibu hamil dan melahirkan oleh karena perdarahan.

(Baca Juga : Bupati Kapuas Dampingi Kunjungan Menko Perekonomian RI, Menteri ATRI RI dan Wamenko Perdagangan RI)

Menurut ASEAN Millenium Development Goals tahun 2017, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tahun 2015 dilaporkan 305 per 100.000 kelahiran hidup (masih jauh dari target MDGs Indonesia, sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup). AKI Indonesia menempati urutan ke dua di Asia Tenggara setelah Negara Laos (357 per 100.000 kelahiran hidup). Sementara Negara tetangga Singapore memiliki AKI 7 per 100.000 kelahiran hidup, Malaysia 24 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut laporan World Bank tahun 2017 di Indonesia dalam 1 hari ada 4 orang ibu meninggal karena melahirkan (tiap 6 jam 1 orang ibu meninggal karena melahirkan). Ada 3 penyebab terbesar ibu meninggal karena melahirkan yang terjadi di Indonesia, yaitu Perdarahan (31%), Tekanan Darah Tinggi (27%), dan Infeksi (6%). Seharusnya AKI melahirkan karena perdarahan dapat ditekan seandainya donor darah sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Kesulitan selama ini adalah Ketersediaan darah di Unit Transfusi Darah yang sering kosong, Kesulitan untuk mendapatkan pendonor yang dibutuhkan. Untuk itulah program Quick Wins dibuat, dimana setiap ibu hamil harus didampingi minimal 4 orang pendonor.

Program ini melibatkan Puskesmas, UTD, dan Rumah Sakit dengan peran masing-masing dimana puskesmas berperan dalam Periksa golongan darah ibu hamil, Menyiapkan 4 orang pendonor yang memiliki golongan darah yang sama dengan ibu hamil tersebut, Melakukan seleksi donor, sesuai dengan syarat pendonor, Mengirim pendonor ke Unit Transfusi Darah (UTD) pada 10 hari (paling lambat 7 hari) sebelum tanggal taksiran persalinan, Merujuk ibu hamil yang mengalami perdarahan saat persalinan ke Rumah Sakit. Unit Transfusi Darah (UTD), berperan Melakukan pengambilan darah donor, Melakukan penapisan IMLTD darah donor, Melakukan uji cocok serasi darah donor dan ibu hamil/ melahirkan tersebut, Mendistribusikan darah donor ke ibu hamil tersebut bila ibu hamil tersebut memerlukan transfusi darah. Rumah Sakit berperan Menerima rujukan ibu hamil tersebut, Melakukan tindakan medis terhadap ibu hamil tersebut, Bila ternyata ibu hamil tersebut dapat melahirkan di peskesmas (tidak dirujuk ke rumah sakit) dan tidak membutuhkan darah, maka darah donor yang sudah diambil akan diberikan kepada orang lain yang membutuhkan darah tersebut.

Beliau juga menjelaskan Kriteria Bagi Pendonor Darah, yaitu Usia, minimal 17 tahun, Berat badan minimal 45 Kg, Tekanan darah : sistolik 90-160 mmHg; diastolik 60-100 mmHg, Denyut nadi : 50-100x/ menit dan teratur, Suhu tubuh : 36,5- 37,5 °C, Hb : 12,5-17 g/ dL, Interval sejak penyumbangan terakhir minimal 8 minggu (2 bulan) sejak penyumbangan darah terakhir. Penampilan donor jika didapatkan kondisi anemia, ikterik/ kuning, sianosis/ biru, dispnoe/ sesak nafas, ketidak stabilan mental, alkoholik, atau penyalahgunaan obat, tidak diijinkan mendonorkan darah. Kondisi Medis Yang Ditolak Sementara Sebagai Pendonor antara lain Endoskopi dengan biopsi (masa penolakan 6 bulan), Akupunktur, tattoo, tindik badan (masa penolakan 6 bulan), Mukosa terpercik darah manusia (masa penolakan 6 bulan), Epilepsy : 3 tahun setelah berhenti pengobatan tanpa serangan, Demam > 38°C, flu like illness: masa penolakan 2 minggu setelah gejala hilang, Penyakit ginjal (5 tahun ditolak setelah penyembuhan lengkap), Osteomyelitis (2 tahun setelah donor telah diobati), Kehamilan (6 bulan setelah melahirkan atau penghentian kehamilan), Bedah (tidak donor darah hingga sembuh total), Cabut gigi (1 minggu jika tidak ada keluhan), Pengobatan (membutuhkan kenilaian medis dari penyakit yang mendasari; jenis pengobatan; dan dampak yang potensial pada penerima), Imunisasi influenza (diterima jika keadaan kesehatan baik), Imunisasi hepatitis B (1minggu, untuk mencegah hasil pemeriksaan HbsAg positif palsu), Malaria (3 tahun untuk orang yang pernah menderita malaria dan tetap tanpa gejala), Sifilis (1 tahun setelah tanggal konfirmasi telah sembuh, tapi tidak untuk fraksionasi plasma), Toxoplasmosis (6 bulan setelah penyembuhan klinis), TBC (2 tahun setelah tanggal pernyataan telah sembuh).

"Kondisi Medis yang ditolak permanen sebagai pendonor apabila pendonor sedang mengalami Semua jenis kanker, Diabetes Mellitus yang mendapat terapi insulin, Setiap penyalahgunaan narkoba yang disuntikkan, Penyakit jantung dan pembuluh darah, Kondisi infeksius, Orang yang tercatat memiliki riwayat anafilaksis, Penyakit autoimun, Tendensi perdarahan abnormal, Penyakit hati, Polisitemia vera, dan HIV/ AIDS," pungkasnya. (PKRSKps/Hmskmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta