Kemandirian Pangan Melalui Manyanggar

Kontribusi dari ADMIN SIBER, 16 Oktober 2018 06:35, Dibaca 697 kali.

 

Oleh

(Baca Juga : Promkes RSUD Kapuas Lakukan Penyuluhan tentang Nyeri Punggung Bawah)

Dr. Rusma Noortyani, M.Pd

Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia

 

Kalimantan Tengah merupakan daerah yang memiliki berbagai ragam tradisi dari suku Dayak. Tradisi berupa upacara ritual memiliki keunikan yang dibagi dua bagian yakni ritus kehidupan dan kematian. Salah satu ritual besar berkaitan dengan kehidupan seperti upacara adat manyanggar. Manyanggar berasal dari kata sangga artinya batasan atau rambu-rambu. Di daerah Kapuas, Kahayan, dan Katingan dinamakan menyanggar lewu merupakan upacara penghormatan atas bumi suku Dayak Ngaju.

Manyanggar mengandung pengertian pula bahwa alam lingkungan yang dikelola dan dipergunakan sebagai ruang hidup manusia. Ruang tempat hidup sebagai karunia yang harus dipelihara. Dalam upacara manyanggar terdapat pagar yang kuat dan terbina benang emas sebagai pengendali dari pusat-pusat kekuatan spritual yang dimaksud. Upacara manyanggar dilakukan apabila kita mempergunakan alam yang awalnya lestari yang menjadikan dirinya sejak ribuan tahun menjadi alam terbangun menurut kemauan kita sebagai tempat kita hidup. Alam lestari sebagai wujud dari anugerah Tuhan YME kepada umat manusia untuk digunakan sebagai tempat ia hidup, makmur, dan bahagia. Adil ka talino, bacuramin ka saruga, basengat ka jubata. (=Adil kesesama manusia, bercermin kekebaikan, bergantung ke Tuhan).

Upacara yang dilakukan Dayak Ngaju ini diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat. Dengan kata lain, ritual yang dilakukan untuk membuat batas-batas dari berbagai aspek kehidupan antara manusia dan makhluk gaib. Ritual menyanggar biasanya diadakan saat ingin membuka lahan baru untuk pertanian, mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum diadakan acara besar. Apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni makhluk gaib supaya dapat berpindah ke tempat lain secara damai agar tidak mengganggu manusia.

Berkaitan dengan pembukaan lahan baru untuk pertanian, tradisi ini bertujuan agar tanaman yang ditanam dapat tumbuh subur sehingga masyarakat sehat dan sejahtera. Pembukaan lahan diharapkan berjalan lancar dan hasil panen yang didapatkan juga baik. Peran pertanian dalam konteks ini adalah pemenuhan kebutuhan pangan, baik pokok maupun pangan lain. Keberhasilan Indonesia memanfaatkan potensi lahan tidur khususnya lahan rawa lebak menjadi lahan pertanian produktif yang sangat berpotensi sebagai penyedia stok pangan nasional. Pengembangan lahan rawa merupakan masa depan untuk mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Menteri Pertanian menyatakan bahwa lahan rawa di Indonesia yang potensial untuk dikembangkan untuk lahan pertanian sebesar 10 juta hektare. Jika dikelola dengan baik, lahan sebesar ini diyakini akan mampu memasok kebutuhan pangan seiring pesatnya pertumbuhan penduduk, bahkan memasok kebutuhan dunia.

Ketersediaan pangan mencakup dua komponen yaitu kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu). Keterjaminan pangan dapat diartikan sebagai terpenuhinya kecukupan pangan penduduk walaupun terjadi fluktuasi musim, bencana atau keadaan lain yang tidak menguntungkan. Bermula dari komponen utama ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfatan pangan, dan kestabilan pangan. Oleh karena itu, setiap tanggal 16 Oktober diselenggarakan Hari Pangan Sedunia (HPS). HPS bermula pada kesepakatan dalam konferensi Food and Agriculture Organization (FAO) ke-20 yang diselenggarakan pada November 1979. Atas usul yang merupakan inisiatif dari Delegasi Menteri Pertanian dan Pangan Hongaria Dr. Pal Romany. Konferensi ini menghasilkan resolusi Nomor 179 tentang World Food Day yang menetapkan 16 Oktober sebagai HPS sejak tahun 1981. Resolusi ini disepakati oleh negara anggota FAO termasuk Indonesia.

Tujuan pendirian FAO untuk membebaskan manusia dari kelaparan dan kekurangan gizi serta secara efektif mengelola sistem pangan global. Peristiwa peringatan HPS ini untuk meningkatkan kesadaran, perhatian, dan tindakan masyarakat internasional di seluruh dunia terhadap pentingnya penanganan masalah pangan seperti kelaparan dan kebutuhan untuk menjamin keamanan pangan dan makanan bergizi di tingkat global, regional maupun nasional untuk semua orang di seluruh dunia. Pelaksanaan HPS ke-38 tahun 2018 dengan tema internasional A Zero Hunger World by 2030 is Possible dan tema nasional “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” (syatkmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta