Literasi Budaya Melalui Teknologi

Kontribusi dari ADMIN SIBER, 23 Oktober 2018 09:13, Dibaca 598 kali.

oleh :

Rusma Noortyani  (Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia)

(Baca Juga : Ketua Veteran Berharap Jalan Veteran Terealisasi)

 

Ada sekitar 81 juta penduduk yang termasuk dalam generasi milenial artinya sekitar hampir 32% dari total populasi di Indonesia. Perkiraaan jumlah penduduk di Indonesia saat ini sebesar 255,4 juta atau sebesar 62,7 juta orang merupakan manusia yang lahir pada generasi Y (lahir antara 1980-1995). Hampir seperempat penduduk Indonesia adalah mereka yang lahir pada generasi Y. Meskipun secara jumlah, generasi milenial ini tidak sebanyak generasi Z yang memiliki total populasi sebesar 67,8 juta orang. Fakta bahwa hanya sebagian kecil dari generasi Z yang  berada pada usia produktif menunjukkan bahwa generasi Y-lah yang masih akan membawa pengaruh paling besar di Indonesia sepuluh tahun yang akan datang.

Era saat ini teknologi semakin canggih dan tingkat persaingan pun semakin tinggi. Kualitas dan kinerja generasi kekinian juga dituntut menjadi semakin berkualitas. Generasi masa kini harus mampu beradaptasi dengan cepat, belajar dan menjadi lebih baik dengan cepat serta melakukan navigasi yang lincah dan tepat untuk dapat memecahkan setiap masalah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan untuk mempersiapkan generasi milenial dalam menghadapi tantangan ke depan. Hal terpenting adalah menata karakter, memberi kemampuan adaptasi, dan memiliki pondasi yang kuat.

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Seluruh upaya itu dijalankan secara bersama-sama agar dapat memajukan kesempurnaan hidup generasi milenial. Bapak Pendidikan Indonesia ini sudah mengajarkan filosofi tentang Belajar Tiga Dinding. Maksud filosofi itu adalah belajar dalam ruangan tiga dinding. Makna dari tiga dinding berupa dalam ruang kelas harus ada satu yang terbuka. Hal tersebut mencerminkan para pendidik dan peserta didik dapat melihat pemandangan di luar kelas. Inilah yang menjadi penghubung dengan dunia luar sekolah. Sudut pandang yang sangat penting untuk membentuk karakter dan keinginan peserta didik. Aplikasinya peserta didik harus diberi ruang untuk memilih. Tugas pendidik dan orang tua untuk memunculkan karakter seorang anak yaitu mengarahkan minat anak.

Konsep pendidikan yang memperhatikan realita atau kehidupan nyata akan membuahkan lulusan yang kompetitif. Seiring dengan pendapat BJ. Habibie tiga hal penting dalam pendidikan, yaitu agama, budaya, dan ilmu pengetahuan yang disertai pengamalan teknologi. Keseimbangan ketiga hal tersebut diharapkan berjalan sinergis dengan konsep berorientasi pada hasil yang positif. Potensi rasa cinta terhadap budaya bangsa dan empati sosial yang besar. Semuanya akan mengarah pada lulusan generasi yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat. Orang hebat lahir karena memiliki jiwa yang kuat dan memiliki integritas yang tinggi serta selalu menjaga emosi dan hatinya untuk selalu bermanfaat untuk orang lain. Tentu saja harus selalu lebih baik dari satu generasi ke generasi yang lain.

Habibie mengatakan budaya memiliki peran penting dalam membangun SDM yang unggul. Budaya menjadi karakter bangsa yang bukan hanya sekadar dilihat dari pemahaman soal ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan perilaku pengguna teknologi tersebut. Perilaku individu ditunjukkan melalui budaya. Proses pembudayaan sebagai bagian terpadu dari proses menjadikan individu yang andal bagi suatu masyarakat. Produktif dan kreatif ditentukan oleh perilaku dan penguasaan teknologi perilaku.

Karakter bangsa harus diaplikasikan dalam perilaku selain ilmu pengetahuan. Budaya menjadi benteng nilai-nilai moral yang dihadapkan pada era arus informasi yang begitu cepat. Banyak hal yang mudah masuk yang sebetulnya secara perlahan akan melakukan abrasi terhadap nilai Indonesia. Pembentengnya adalah budaya. Literasi budaya menjadi nilai-nilai yang terus disosialisasikan kepada generasi-generasi penerus bangsa. Budaya yang sudah seyogyanya menjadi perhatian untuk dipelihara eksistensinya dan aktualisasi keberadaannya, sehingga dapat senantiasa lestari karena mengandung tata nilai luhur. Tata nilai yang konfigurasi dibangun tiga jenis nilai yaitu nilai relegius, nilai solidaritas, dan nilai estetis. Ketiga nilai luhur itu selalu memberikan refleksi akan sangat kuatnya kehidupan religi, adat istiadat dan kreativitas bangsa dalam menghadapi segala tantangan hidup. (syatkmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta