Pahlawan Merah Putih

Kontribusi dari OPR. KIP KOMINFO_1, 12 November 2018 07:31, Dibaca 590 kali.

oleh

Dr. Rusma Noortyani, M.Pd

(Baca Juga : Dinas Pertanian Kapuas Lakukan Pemeriksaan Daging Kurban)

Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia

Ku pertahankan kau demi tumpah darah semua pahlawan-pahlawanku. Merah putih teruslah kau berkibar. Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini. Lirik lagu Bendera dari Coklat ini mengingatkan pada pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya yang dikenal dengan peristiwa 10 November 1945. Pertempuran Surabaya menjadi peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya di Surabaya Jawa Timur.  Pasukan Goerkha Inggris yang bergabung dalam Brigade ke-49 Divisi ke-26 India dipimpin oleh AWS. Mallaby diboncengi NICA mendarat di Surabaya.

Sehari sebelum pecah pertempuran tepatnya 9 November 1945, Mayor Djenderal R.C Mansergh Komandan Tentara Angkatan Darat Sekutu memberikan ultimatum kepada segenap rakyat Indonesia supaya bersedia menyerahkan senjatanya. Penyerahan paling lambat pukul 06.00 pagi 10 November 1945. Namun, ultimatum ini tidak didengar oleh rakyat Indonesia. Semangat perjuangan ulama dan santri tidak luntur, meskipun harus menghadapi Tentara Sekutu Inggris dan NICA ditambah Divisi India ke-26 seluruhnya berjumlah 15.000 orang. Bahkan ditambah senjata pemusnah dan beberapa kapal Destroyer-perusak dari Royal Air Force Inggris. Semua itu tidak mampu memadamkan semangat perjuangan melawan penjajahan yang sedang berkobar di hati rakyat Indonesia.

Semangat dan jiwa patriotik yang ditunjukkan rakyat Indonesia tampak pada pecahnya peperangan di Surabaya 4 Dzulhijjah 1364. Surabaya menjadi lautan api dan darah. Dari perang ini terlihat keagungan semangat rela berkorban dan keberanian jiwa para ulama dan santri bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan gabungan dari para pejuang PETA, KNIL, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya. Banyak korban dari kedua belah pihak sampai kematian AWS Mallaby serta penyobekan bendera Belanda di atas Hotel Yamato.

Adanya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Nahdatul Ulama, 22 Oktober 1945, 15 Dzulqaidah 1364  dan dari Partai Islam Indonesia Masyoemi, di Yogjakarta 7 November 1945 (1 Dzulhijjah 1364 H), serta panggilan Takbir dari Bung Tomo. Kehadiran para ulama antara lain: Choedrotoes Sjeich Rais Akbar K.H Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur. K.H Asyhari dan Kiai Toenggoel Woeloeng dari Yogyakarta. K.H Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon dan K.H. Moestafa Kamil dari Syarikat Islam Garut Jawa Barat ikut memimpin di Surabaya.

Santri memiliki andil besar dalam perjuangan melalui Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad mereka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengusir penjajah dari Indonesia dan mereka berhadapan langsung dengan kolonial. Terkait dengan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan ini menjadi subtansi kesantrian yakni spritualitas dan patriotisme ketika Kiai Hasyim Asyari mengumumkan fatwa yang masyhur disebut Resolusi Jihad merespons agresi Belanda kedua.Perang 10 November merupakan hasil dari pengaruh semangat religius yang Islami. Walaupun harus menghadapi musuh dalam jumlah besar dan merenggut maut, ucapan Takbir Allahu Akbar yang terus berkumandang saat peperangan membuat Tentara Sekutu, Goerkha dan NICA tidak berdaya. Akhirnya, mereka tidak sanggup untuk meneruskan operasinya dan kehilangan senjatanya.

Bertepatan dengan tema hari pahlawan ke-73 tahun 2018 “Semangat Pahlawan di Dadaku” selalu menjadi akar kehidupan nasionalisme dan patriotisme para santri. Hal ini digambarkan dengan perjalanan sejarah dari berbagai macam perjuangan yang telah dilalui. Eksistensi santri selalu ada meskipun menghadapi berbagai hambatan dan budaya kekinian. Pada saat perang, jihad berarti mempertahankan diri dengan mengangkat senjata ketika ditindas dan dijajah. Jihad dilakukan saat ini M. Afiq Zahara (2017) menyebutkan adanya 1) jihad sosial, yaitu jihad yang garapannya pokoknya adalah perbaikan sosial, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu, 2) jihad spiritual, yaitu jihad yang mendorong para pengamal agama untuk memperbaiki kualitas ibadah mereka dengan permenungan, tadabbur dan tafakkur, 3) jihad pengetahuan, yaitu jihad membangun dasar argumentasi yang kuat untuk melindungi karakter beragama kita yang menghargai keragaman. 4) jihad peradaban, yaitu jihad yang arahnya menciptakan masyarakat yang beradab atau harmonis, saling menghormati dan menghargai meski berbeda-beda.(syatkmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta