RSUD Kapuas Lakukan Penyuluhan tentang Deteksi Dini Kanker Serviks

Kontribusi dari RSUD KAPUAS, 13 Februari 2019 09:00, Dibaca 164 kali.

KUALA KAPUAS - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kapuas melakukan penyuluhan kesehatan tentang Deteksi Dini Kanker Serviks (Leher Rahim), yang pada kesempatan itu disampaikan langsung oleh dr. Daniel Liando, Sp.OG, M.Kes,  selaku Dokter Spesialis Kandungan RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, beserta Tim PKRS, yang mana Penyuluhan Kesehatan tersebut merupakan kegiatan rutin Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS), Rabu (13/02) lalu.

dr. Daniel menjelaskan serviks atau leher rahim adalah bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama / vagina dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat (speculum). Di Indonesia masalah penanganan kanker serviks belum maksimal karena terkendala, faktor geografik > 13.000 pulau, kurangnya fasilitas sitologi, kurangnya fasilitas terapi, kurangnya kepatuhan pasien, kurangnya pengetahuan pada kelompok perempuan tentang gejala kanker serviks, dan sikap fatalistik terhadap kanker.

(Baca Juga : 1.060 Anak Sekolah Hari Minggu Ikuti Pekan Paskah )

Kanker Leher Rahim merupakan penyakit tumor ganas yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat menyebar ke organ-organ lain dan menyebabkan kematian. Kanker leher Rahim dapat dicegah karena perkembangan virusnya perlahan – lahan mulai dari luka dahulu dimana ibu tidak akan merasakan apa-apa, namun apabila tidak dicegah dan ibu merasakan kesakitan, perdarahan atau komplikasi lainnya, maka sudah sulit untuk diobati dan dapat menyebabkan kematian. Cara mengetahui leher rahim sehat atau tidak dapat diketahui dari melihat luar fisik ibu saja, namun harus dilakukan pemeriksaan dengan cara melihat leher rahim ibu. Penyebab kanker serviks / kanker leher rahim disebabkan oleh virus yang bernama virus HPV. Penularannya melalui hubungan seksual.

Faktor resikonya, antara lain menikah atau melakukan hubungan seksual sebelum usia 17 thn, berganti-ganti pasangan seksual atau berhubungan dengan pria yang sering berganti pasangan, terpapar Infeksi Menular Seksual (IMS), melahirkan banyak anak, perokok baik aktif maupun pasif, penurunan daya tahan tubuh, dan mempunyai saudara perempuan atau ibu yang menderita kanker leher rahim.

Cara mendeteksi dini kanker leher rahim dengan cara setiap perempuan yang telah melakukan hubungan seksual khususnya yang berumur 30-50 tahun, sebaiknya menjalani deteksi dini kanker leher rahim. Cara mendeteksi dini kanker leher rahim yaitu dengan Test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) : pemeriksaan leher Rahim dengan mengoleskan asam cuka, dan Tes Pap Smear : pengambilan jaringan pada leher rahim yang akan dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Perbedaan IVA dan Pap Smear, antara lain Hasil tes IVA dapat segera diketahui, sedangkan Pap Smear membutuhkan waktu 1-2 minggu, Biaya pemeriksaan IVA lebih murah dibandingkan dengan Pap Smear, IVA adalah Inspeksi Visualisasi Dengan Aplikasi Asam Asetat, Non-invasif, Mudah- murah, Pelayanan kesehatan sederhana (bisa di puskesmas), Hasil langsung didapat, dan Sensifitas & spesifitas cukup baik, serta cocok di negara berkembang.

Apabila IVA negatif, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya perubahan atau kelainan pada leher rahim, ibu harap kembali lagi 5 tahun kemudian untuk dilakukan pemeriksaan ulang, atau bila ada keluhan segera ke pelayanan kesehatan walaupun sebelum 5 tahun. Walaupun hasil sekarang tidak menunjukkan adanya masalah, namun masalah dapat muncul kemudian hari, untuk itu penting melakukan pemeriksaan ulang setelah 5 tahun.

Apabila IVA positif, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan pada leher rahim, maka akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan dengan cara krioterapi atau mungkin mengharuskan ibu untuk dirujuk ke rumah sakit. Ibu belum menderita kanker namun apabila tidak diobati segera virus dapat menyebar dan berkembang menjadi kanker.

Hasil Tes IVA Positif dapat diobati dengan proses krioterapi. Prosesnya adalah dengan menggunakan alat krio yang akan ditempelkan pada leher rahim dan membentuk bola es yang akan mencair dan merontokkan bagian yang bermasalah. Rasanya akan sedikit tidak nyaman dan keram seperti saat ibu.

Hal yang perlu diperhatikan setelah Krioterapi, antara lain setelah selesai di krio, ibu akan mengalami kram dan mengeluarkan cairan bening (atau sedikit bercampur darah) yang biasanya berlangsung selam kurang lebih 4 minggu, hindari penggunaan atau mengoleskan obat pada vagina, mengangkat barang berat dan juga berhubungan seksual selama 1 bulan, waktu 1 bulan, 6 bulan dan 1 tahun setelah dilakukan krioterapi, ibu kembali harus dilakukan pengecekan. "Apabila setelah di krio, ibu mengalami demam selama lebih dari 2 hari, nyeri pada perut yang amat sangat, perdarahan lebih dari 2 minggu dan lebih banyak dari menstruasi dan adanya gumpalan, ibu segera kembali ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan", pungkasnya. (RSUD/Hmskmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta