Sarung Sebagai Strategi Kebudayaan Positif

Kontribusi dari OPR. SIBER_1, 04 Maret 2019 07:33, Dibaca 385 kali.

Oleh

Dr Rusma Noortyani MPd

(Baca Juga : 60 Peserta Ikuti Seleksi STQ Tingkat Kabupaten )

Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia

 


Salah satu stasiun televisi menayangkan tentang festival sarung. Tampak peserta menggunakan sarung dan mengatakan bangga memakai sarung. Sarung membangkitkan kebanggaan terhadap sarung sebagai salah satu identitas budaya. Sarung menjadi salah satu pakaian bangsa Indonesia yang keberadaannya masih eksis sampai saat ini. Penggunaan sarung sebagai atribut produk segala jenis busana pada umumnya berhubungan dengan budaya dan adat istiadat komunitas pemakainya. 

Pemakaian sarung dipengaruhi oleh budaya masyarakat Indonesia. Sarung memiliki daya tarik untuk dikembangkan karena potensi bangsa Indonesia sebagai produsen dan konsumen. Hal ini berarti dapat ikut serta mengembangkan perekonomian bangsa. Secara umum, pengguna sarung dapat dibedakan menjadi tiga kategori yakni: 1) pengguna yang menggunakan sarung sebagai pakaian sehari-hari, baik pada acara resmi maupun pada kondisi santai, 2) pengguna sarung yang menggunakan sarung hanya sebagai pakaian santai saja, 3) pengguna sarung untuk pakaian insidentil. 

Sarung memiliki ragam hias kain yang muncul dari filosofi tradisi budaya lokal. Adanya hubungan pola pengembangan motif antara motif dasar desain struktur dan corak dasar. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, oleh para saudagar dari Arab dan Gujarat yang juga menyebarkan agama Islam. Sampai kini sarung identik sebagai atribut ibadah yang dikenakan oleh umat muslim laki-laki di Indonesia. Selain itu, di Indonesia sarung juga merupakan atribut tradisional, yaitu sebagai pakaian adat.

Walaupun terdapat banyak perbedaan sarung di setiap daerah, namun cara pembuatan kain sarung di Indonesia menggunakan teknik yang sama hampir di seluruh daerah, yaitu dengan teknik tenun. Teknik tenun menjadi pemersatu dari semua perbedaan mengenai sarung di Indonesia. Sarung merupakan kain berbentuk persegi panjang yang kedua sisinya disatukan dengan cara dijahit dan digunakan sebagai sandang bawahan. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki motif sarung berbeda-beda yang juga menjadi ciri khas daerah tersebut.

Setiap daerah memiliki arti dan fungsi dalam setiap bentuk dan motif sarung. Salah satunya sebagai patokan kelas sosial bagi penggunanya. Sarung sebagai kekayaan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Sarung menjad warisan kekayaan leluhur mesti dilestarikan serta layak disejajarkan dengan batik sebagai busana nasional. Dengan demikian, geliat perekonomian para pembuat sarung semakin meningkat. 

Motif sarung yang ada di Indonesia sebenarnya tersebar banyak hal yang dapat diolah sehingga bernilai ekonomi. Suatu nilai jika hal demikian juga memiliki makna budaya. Artinya tidak hanya menjadi makna budaya dan tidak hanya menjadi sumber penghasilan. Namun, sarung dapat menjadi strategi kebudayaan yang positif.

Apresiasi kebudayaan dengan sikap menghargai hasil karya dalam negeri. Keberagaman motif yang ada menjadikan kekayaan budaya suatu daerah menjadi milik bersama sebagai satu Negara. Kekayaan ini patut menjadi kebanggan bagi masyarakat Indonesia. Hal ini juga memunculkan rasa kepemilikan kebudayaan sebagai identitas bangsa.

Saat festival sarung berlangsung, masyarakat yang memakai sarung sebagai bentuk penghargaan atas karya dan produksi setiap provinsi. Setiap provinsi berbeda-beda corak, berbeda motif, dan berbeda warna. Perbedaan ini juga memiliki filosofi yang tinggi. Dalam upaya membumikan sarung di masyarakat, pemerintah juga akan melakukan kerja sama dengan para desainer mode. Semua ini dilakukan agar sarung semakin diminati setia generasi. Dengan begitu semua golongan dan generasi merasa bangga memakai sarung (syatkmf)

Kontak Kami


Kantor

Sekretariat : Jl. Pemuda Km. 5,5 Kuala Kapuas(Kantor Dinas Kominfo Kab. Kapuas)

Telpon
(0513) 201010 -- Fax (0513) 201010 HP. 0852 5196 1352

Email
ppid@kapuaskab.go.id

Website
kip.kapuaskab.go.id


Peta